Berita Perbanas

Bankir Sambut Positif Implementasi GWM Averaging

5 Juli 2017

rupiah-dolar-670x340 edit

Infobanknews.com,JAKARTA–Sejumlah bankir menanggapi positif penerapan aturan Giro Wajib Minimum secara rata-rata (GWM Averaging) oleh Bank Indonesia (BI). Penerapan aturan ini dinilai memberi keleluasaan bagi bank dalam mengelola likuiditasnya karena dana yang disimpan di bank sentral tidak dihitung harian.

Wakil Direktur PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Sunarso mengatakan, aturan ini membuat bank lebih mudah mengelola kebutuhan likuiditasnya. Syaratnya bank harus mampu menyediakan simpanan dana di BI sesuai dengan aturan yang ditetapkan.

“Jadi yang penting averange-nya terpenuhi, kalau punya GWM tinggi itu bisa digunakan karena yang dipakai hanya average-nya saja. Artinya itu memberi kelonggaran likuitidas,” ujarnya di Jakarta.

Dia mengungkapkan, dengan kemudahan tersebut maka bank bisa menjalankan bisnisnya lebih leluasa. Namun demikian, dirinya belum bisa memprediksi besaran tambahan dana yang bisa masuk ke dalam sistem keuangan.

“Itu nanti kita lihat (dampaknya), maksud daripada GWM itu memberi kelonggaran likuiditas. Karena situasinya sekarang untuk mendorong kredit kita perlu likuiditas, karena dengan pelonggaran itu kalau ada likuiditas enggak terpakai itu bisa dipakai untuk lending,” ucapnya.

Adapun per 1 Juli 2017 kemarin, GWM Primer yang dipenuhi secara rata-rata adalah sebesar 1,5 persen dari rata-rata DPK Rupiah selama Calculation Period (CP) atau sekitar 20 persen dari total rasio GWM Primer yang sebesar 6,5 persen (partial averaging).

Selain BRI, dampak positif GWM averaging akan dirasakan bank besar lainnya. Hal ini sebagaimana diamini oleh Presiden Direkur PT Bank Central Asia Tbk atau BCA, Jahja Setiaatmadja yang mendukung aturan GWM averaging.

“Itu (GWM averaging) bagus. Itu membantu perbankan untuk lebih mudah dalam mengelola likuiditasnya. Kami di BCA pastinya akan memanfaatkan itu, kita akan pakai sesuai dengan aturan GWM averaging yang baru,” tukas Jahja.

Menurut BI, implementasi GWM Averaging ini sebagai langkah lanjutan dari Reformulasi Kerangka Operasional Kebijakan Moneter dalam meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter.

Kebijakan ini juga sesuai dengan standar internasional. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa sistem GWM Rata-Rata ternyata mampu memberikan fleksibilitas dan meningkatkan efisiensi pengelolaan likuiditas bank (Liquidity Management Instrument) dan mengurangi volatilitas suku bunga di pasar uang (Interest Rate Buffer).

enerapan GWM Rata-Rata membuka ruang bagi bank untuk meningkatkan kemampuan dan efisiensi pengelolaan likuiditas. Bank dapat memanfaatkan fleksibilitas likuiditas tersebut untuk penempatan sementara pada instrumen pasar uang sehingga akan semakin mendorong pendalaman pasar keuangan yang merupakan salah satu program strategis BI.

Implementasi GWM Rata-Rata juga dapat menopang stabilitas suku bunga operasional (PUAB overnite) berada di kisaran suku bunga kebijakan 7-Days (Reverse) Repo Rate sebagai sasaran operasional kebijakan moneter dan sekaligus mendorong pendalaman pasar keuangan.

Other News