Berita Perbanas

Perbanas Nilai Imbauan “Rush Money” Tidak Bertanggung Jawab

24 November 2016

ilustrasi-kartika-wirjoadmojo

JAKARTA, KOMPAS.com – Ajakan untuk melakukan penarikan dana secara bersama-sama dari perbankan alias rush money pada tanggal 25 November 2016 mendatang beredar di media sosial.

Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) menilai imbauan untuk melakukan rush money merupakan sebuah tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Ketua Umum Perbanas Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan, perkembangan yang beredar di media sosial terkait rush money sudah mengarah kepada isu yang kurang sehat.

Kartika menyatakan, perbankan merupakan pilar perekonomian nasional dan memiliki peran yang besar serta memberikan kemakmuran bagi masyarakat luas.

“Dana (di perbankan nasional) sudah Rp 5.000 triliun. Perannya, untuk membiayai pembangunan infrastruktur sampai kredit mikro,” ujar Kartika di Plaza Mandiri, Rabu (23/11/2016).

Menurut Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk ini, bukan suatu hal yang pantas apabila sistem perbankan yang sudah solid digoyang dengan imbauan yang kurang bertanggung jawab.

Ia menyatakan, Perbanas telah melakukan koordinasi dengan regulator terkait isu tersebut. Kartika pun menyatakan, sistem perbankan Indonesia saat ini dalam kondisi yang sehat.

Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) industri perbankan nasional saat ini mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah, yakni lebih dari 20 persen.

“Dari sisi stabilitas neraca dan kapasitas cashflow sangat memadai,” tegas Kartika. Perbankan Indonesia, kata dia, seharusnya tidak digoyang dengan isu seperti rush money.

Pasalnya, kebutuhan masyarakat akan perbankan untuk penyaluran kredit, simpanan uang, maupun transaksi keuangan lainnya sangat tinggi.

“Dampak dari pertumbuhan perbankan kita luas, mulai dari kredit infrastruktur sampai yang kecil seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat) kita dorong semua,” jelas Kartika.

Other News