Berita Perbanas

Perbanas Yakini Sektor Infrastruktur dan Properti Jadi Tumpuan Ekonomi Tiga Tahun ke Depan

4 November 2016

Infrastruktur Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA— Sektor properti dan infrastruktur akan menjadi dua sektor yang paling mungkin untuk menjadi motor penggerak utama ekonomi Indonesia dalam tiga tahun hingga lima tahun ke depan.

Pengamat Ekonomi dan Pengurus Persatuan Bank Nasional (Perbanas) Aviliani mengatakan kedua sektor tersebut akan menjadi penggerak utama perekonomian nasional sebab kebutuhannya masih sangat tinggi, sedangkan pasokannya masih terbatas.

Sementara itu, selama periode 2010-2013 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sangat tinggi telah memacu peningkatan aktivitas produksi berbagai sektor lainnya. Aktivitas ekspansi investasi sangat tinggi selama periode tersebut hingga memacu pertumbuhan kredit perbankan hingga menembus 30% per tahun.

Alhasil, pasokan produksi dari sektor-sektor lain tersebut telah cukup tinggi. Di saat perekonomian nasional kini berbalik melambat, sektor-sektor tersebut mengalami tekanan. Kredit perbankan pun kini hanya tumbuh di kisaran 6,8% atau tidak mampu menembus level pertumbuhan dua digit.

“Hal ini bisa dipahami karena memang tidak banyak perusahaan yang akan ekspansi di bidangnya kerena memang saat ini sudah terjadi over produksi. Sejak tahun 2015 perekonomian kita menurun, bukan karena kita krisis, tetapi karena perekonomian dunia menurun dan kita ikut demikian,” katanya, dikutip Jumat (4/11/2016).

Di sisi lain, tingkat kebutuhan terhadap sektor properti dan infrastruktur masih sangat tinggi. Hal tersebut sudah disadari pemerintah sehingga banyak merilis kebijakan-kebijakan yang positif bagi kedua sektor ini.

Di sektor properti, pemerintah telah meningkatkan rasio loan to value rumah komersial dari 70% menjadi 85% sehingga akan sangat meringankan masyarakat yang sangat membutuhkan hunian, sebab uang mukanya hanya 15%.

Selain itu, bagi kalangan investor atau masyarakat yang ingin memiliki properti kedua, pemerintah melalui Bank Indonesia juga telah kembali membuka kesempatan untuk membeli properti secara inden.

Hal ini masih didukung pula oleh penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia serta berbagai program lain, seperti penyederhanaan perizinan, pemangkasan pajak penghasilan (PPh) final peralihan, pelonggaran bagi kepemilikan hunian bagi orang asing, insentif bagi penerbitan instrumen investasi dana investasi real estat, hingga program pengampunan pajak.

Sementara itu, pemerintah juga mengalokasikan belanja modal yang sangat tinggi setiap tahun untuk infrastruktur. Potensi pengembangannya masih sangat tinggi sebab selama ini pembangunan infrastruktur masih terpusat di kota-kota Pulau Jawa.

Tingginya belanja modal pemerintah dan investasi swasta di sektor ini akan meningkatkan arus belanja masyarakat dan menggerakan ekonomi. Setelah proyek-proyek infrastruktur ini rampung, perekonomian pun akan bergerak lebih lancar seiring lancarnya lalu lintas barang dan jasa.

Sumber foto: Madina

Other News