Siaran Pers

BI mempertahankan BI Rate pada Level 6,50%

5 Juli 2010

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 5 Juli 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 6,50%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kinerja perekonomian dan prospek ekonomi ke depan yang secara umum menunjukkan perkembangan yang terus membaik. Dewan Gubernur memandang bahwa BI Rate tersebut masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi sebesar 5%±1% pada tahun 2010 dan 2011, dan tetap kondusif bagi upaya mendorong proses pemulihan perekonomian domestik di tengah masih tingginya risiko global yang bersumber dari krisis utang di sejumlah negara Eropa.


Pemulihan ekonomi global terus berlanjut meskipun masih diwarnai oleh tekanan di pasar keuangan global dan kekhawatiran terhadap sustainabilitas pemulihan ekonomi Eropa. Berbagai indikator terkini menunjukkan pemulihan ekonomi di negara maju, khususnya AS dan Jepang, terindikasi akan lebih kuat pada tahun 2010 ini. Demikian pula, pemulihan ekonomi di negara-negara emerging economies, khususnya Asia termasuk China, India dan ASEAN-5, tetap membaik dan menjadi daya dukung pemulihan ekonomi global. Sejauh ini dampak krisis yang terjadi di Eropa lebih banyak terasa pada tekanan volatilitas pada pasar keuangan global dan tidak terlihat berpengaruh pada pemulihan ekonomi global pada tahun 2010. Akan tetapi berbagai langkah program stabilisasi dan penyelesaian krisis utang di Eropa diperkirakan akan berdampak pada prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan ini yang lebih rendah pada tahun 2011, meskipun diyakini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap prospek pemulihan ekonomi global secara keseluruhan.

Di sisi domestik, perekonomian menunjukkan kinerja yang terus membaik disertai dengan tetap terjaganya stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan. Perbaikan ekonomi global berdampak positif bagi kinerja sektor eksternal dan investasi Indonesia selama triwulan II-2010, sehingga siklus pemulihan ekonomi domestik menjadi lebih kuat karena tidak bertumpu hanya pada konsumsi. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai sekitar 6% pada triwulan II-2010. Perbaikan kinerja sektor eksternal antara lain tercermin pada surplus transaksi berjalan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang diperkirakan mencapai USD1,75 miliar pada triwulan II-2010, lebih tinggi dari perkiraan semula sebesar USD1,23 miliar. Sementara surplus pada transaksi modal dan finansial juga diperkirakan lebih besar, yaitu mencapai USD3,09 miliar, lebih tinggi dari perkiraan semula sebesar USD1,16 miliar. Tingginya surplus yang terjadi baik pada neraca transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial sejalan dengan perbaikan ekonomi global yang disertai kenaikan harga komoditas dunia, dan mulai meningkatnya arus modal asing karena perbaikan outlook credit rating dan persepsi internasional terhadap Indonesia. Paket kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia pada tanggal 15 Juni 2010 juga telah diterima secara positif oleh pelaku pasar baik domestik maupun internasional, dan diyakini akan semakin memperkuat manajemen moneter dan pendalaman pasar keuangan. Dengan perkembangan tersebut, selama triwulan II-2010, nilai tukar Rupiah secara rata-rata cenderung menguat disertai dengan volatilitas yang menurun. Cadangan devisa Indonesia sampai dengan akhir triwulan II-2010 mencapai USD76,3 miliar atau setara dengan 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Di sisi harga, Dewan Gubernur mencatat adanya indikasi mulai meningkatnya tekanan inflasi. Pada Juni 2010 inflasi mencapai 0,97% (mtm), sehingga secara tahunan inflasi IHK mencapai 5,05% (yoy). Sumber tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan inflasi kelompok bahan-bahan makanan (volatile foods) khususnya bumbu-bumbuan, yang tercatat sebesar 11,51% (yoy) akibat ketidakpastian musim. Sementara itu, tekanan inflasi yang bersumber dari fundamental, tercermin pada inflasi inti (core inflation), sejauh ini masih pada tingkat yang rendah yaitu sebesar 3,97% (yoy) didukung oleh masih cukupnya respon penawaran terhadap peningkatan permintaan dan nilai tukar yang cenderung terapresiasi. Demikian pula, dampak kenaikan TDL sejauh ini belum terlihat seperti tercermin pada inflasi komoditas yang harganya diatur Pemerintah (administered prices) yang masih sebesar 2,60%.

Stabilitas sistem perbankan tetap terjaga disertai dengan mulai meningkatnya pertumbuhan kredit. Industri perbankan menunjukkan perkembangan yang tetap stabil sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%. Intermediasi perbankan juga semakin membaik tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir Juni 2010 mencapai 18,6% (yoy). Untuk keseluruhan tahun 2010 pertumbuhan kredit diperkirakan mencapai 22%-24%, terutama didorong oleh meningkatnya keyakinan pelaku ekonomi terhadap prospek perekonomian yang semakin membaik. Bank Indonesia akan selalu mencermati kondisi di sektor perbankan dan mendorong peningkatan efisiensi perbankan agar fungsi intermediasi dapat dioptimalkan.

Ke depan, perkembangan ekonomi global dan domestik yang membaik selama triwulan II-2010 tersebut diperkirakan akan terus berlanjut. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 diperkirakan akan cenderung menuju ke batas atas kisaran proyeksi 5,5%-6,0%. Kenaikan ekspor dan investasi diperkirakan akan terus terjadi dan semakin memperkuat kenaikan konsumsi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada tahun 2010 dan 2011. Untuk 2011, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai kisaran 6,0%-6,5%. Di sisi harga, Dewan Gubernur mencatat adanya tanda-tanda tekanan inflasi ke depan yang cenderung meningkat intensitasnya. Dalam beberapa bulan ke depan hingga akhir tahun 2010, tekanan inflasi diperkirakan terutama berasal dari dampak kenaikan TDL, datangnya Ramadhan dan Idhul Fitri, dan kenaikan harga-harga bahan makanan terkait dengan ketidakpastian musim. Sementara itu, untuk tahun 2011 tekanan inflasi dapat terjadi dengan akan semakin terbatasnya respon sisi penawaran terhadap peningkatan permintaan yang diperkirakan akan terus berlanjut. Bank Indonesia akan terus mewaspadai meningkatnya tekanan inflasi tersebut dan menyesuaikan respon kebijakan moneter yang diperlukan untuk memastikan agar inflasi tetap berada pada kisasaran sasaran yang telah ditetapkan, yaitu 5%±1% pada tahun 2010 dan 2011.