baca semua 

Berita kami

Berita Perbanas DAMPAK EKONOMI GLOBAL : BI : Indonesia Aman

DAMPAK EKONOMI GLOBAL : BI : Indonesia Aman

Apr 02, 2019
Bisnis, JAKARTA — Bank sentral menegaskan bahwa sistem keuangan Indonesia cukup aman dari paparan dampak sistemik krisis di Turki, Argentina, serta perlambatan ekonomi global yang terjadi di sejumlah negara maju.

Deputi Guberur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menuturkan bahwa sistem keuangan Indonesia berada pada level yang aman berdasarkan simulasi yang dilakukan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

"Aman, kan kita kan selalu lakukan simulasi setiap saat dan selalu bertemu dalam forum KSSK dan kita selalu amati dampak global, dampak nilai tukar, suku bunga terhadap stabilitas sistem keuangan," ujar Dody, Jumat (29/3).

Kondisi ini juga diperkuat oleh data-data keuangan terkait dengan permodalan, return on equity (ROE) serta return on assets (ROA) perbankan di dalam negeri, dan profit perbankan. "Itu semua terdorong," katanya.

Tugas KSSK adalah mengawasi dan memantau sejumlah aspek sistem keuangan di dalam negeri, mulai dari perkembangan ekonomi, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan hingga penjaminan simpaan. Anggota KSSK terdiri atas Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). KSSK merilis hasil rapat reguler setiap tiga bulan sekali.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menegaskan bahwa pelaku pasar perlu meyakini bahwa Indonesia berbeda atau terdiferensiasi dari Turki.

"Indonesia menerapkan kebijakan fiskal dan moneter yang sangat memegang prinsip kehati-hatian , konsisten, disiplin, dan sesuai international best practices," kata Nanang.

Dia menambahkan profil kinerja ekonomi terakhir Indonesia dan Turki juga sangat berbeda. Tingkat inflasi di Turki saat ini mencapai 19%, sedangkan Indonesia sudah terjaga stabil di sekitar 3%.

Selain itu, ekonomi Indonesia tetap tumbuh stabil sekitar 5%, sedangkan ekonomi Turki hanya tumbuh 3,48%. Defisit neraca transaksi berjalan Indonesia pada level 2,9% pada 2018, sedangkan Turki 5,0%.

Suku bunga kebijakan bank sentral atau BI 7-Day Reverse Repo berada pada level 6.0%, sedangkan Turkey mencapai 24% (one week repo). Adapun, Credit Default Swap (CDS) Indonesia 104 basis poin (bps), sedangkan Turki sangat tinggi yaitu mencapai 448 bps

Seperti diketahui, tekanan yang cukup berat pada mata uang Lira Turki dipicu oleh tidak berfungsinya pasar valuta asing di negara tersebut dan melonjaknya suku bunga pinjaman overnight di pasar swap offshore hingga 1000%.

Alhasil, kondisi ini memicu kecemasan di kalangan investor global bahwa hal ini akan dialami oleh negara berkembang lainnya dan mendorong rambatan ke pasar keuangan seluruh negara berkembang.

"Kondisi yang terjadi pada pasar keuangan Turki tidak akan terjadi di Indonesia. Hal ini karena justru Bank Indonesia sedang mendorong pendalaman pasar valuta asing dan pasar uang, agar lebih likuid, efisien, dan sehat," tegas Nanang.

Dia menekankan kenaikan suku bunga seperti dialami Turki tidak akan terjadi karena Bank Indonesia terus memastikan ketersediaan likuiditas rupiah di pasar uang dengan membuka lelang term repo dan forex swap yang dilakukan secara reguler tiga kali sepekan.

Bahkan, jadwal lelang kedua instrumen injeksi likuiditas tersebut sudah terjadwal dalam 6 bulan ke depan dan diumumkan melalui situs Bank Indonesia.

Sejak pertengahan Februari 2019, suku bunga PUAB dan JIBOR terus bergerak turun ke level 6,99% dari 7,4% pada Desember 2018. Sementara itu, premi swap 1 bulan di pasar antar bank telah turun ke kisaran 3,9% hingga 4,2%.

Nanang menegaskan BI terus berupaya memastikan rupiah terjaga stabilitasnya di tengah tekanan yang cukup berat terhadap seluruh mata uang negara berkembang akibat kecemasan perlambatan ekonomi global dan gejolak pasar keuangan Turki.

"Karena sumber pemicu pelemahan rupiah adalah aksi profit taking oleh investor asing dari pasar SBN, Bank Indonesia masuk ke pasar dengan membeli SBN dan terus bersiaga untuk memastikan terjaganya kepercayaan terhadap obligasi negara sekaligus mencegah berlanjutnya pelemahan harga SBN yang dapat memicu melemahnya rupiah," ungkapnya.

Selain berada di pasar, BI juga membuka lelang DNDF pukul 08.30 WIB sampai pukul 08.45 WIB dengan kurs fixed rate untuk menjangkar kurs NDF luar negeri yang seringkali memicu tekanan terhadap kurs spot di dalam negeri, yang dilanjutkan dengan operasi moneter dengan memasok likuiditas DNDF melalui delapan pialang pasar uang.

Sementara itu, Nanang menambahkan BI tetap melakukan operasi di pasar spot secara terukur untuk mencegah pelemahan yang terlalu tajam (smoothing volatility).

Editor : Riendy Astria
SHARE IT
SUBSCRIBE