Dari ATM ke AI, Saat Bank Dipaksa Berpikir Ulang tentang Masa Depannya

22 April 2026

PERBANAS, Jakarta — Industri perbankan tengah memasuki fase paling menentukan dalam sejarahnya. Bukan lagi sekadar soal ekspansi kredit atau pembukaan cabang, melainkan tentang bagaimana bank bertahan di tengah gelombang disrupsi teknologi, perubahan perilaku nasabah, hingga tekanan global yang kian kompleks.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS), Hery Gunardi, menggambarkan transformasi tersebut sebagai perjalanan panjang evolusi perbankan dari era fisik hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). “Perbankan itu berevolusi. Dari banking 1.0 yang serba fisik, lalu ATM, internet banking, hingga sekarang masuk ke intelligent banking berbasis AI, machine learning, dan blockchain,” ujarnya, saat menyampaikan kuliah umum bertajuk Leadership Excellence in Banking: Navigating Change and Driving Sustainable Growth, di Perbanas Institute, Jakarta, Selasa, 21 April 2026.

Menurut Hery, transformasi ini bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan disrupsi yang mengubah fondasi industri. Dia memetakan tiga perubahan besar yang kini menekan perbankan. Pertama, munculnya fintech yang menawarkan kecepatan dan kemudahan layanan, meskipun dalam praktiknya mulai menghadapi persoalan kualitas kredit.

Kedua, perubahan perilaku nasabah yang dipercepat pandemi. Sekitar 50–60 juta nasabah baru menjadi digital savvy dalam waktu singkat. “Sekarang nasabah maunya cepat, personal, dan kalau tidak cocok, pindah,” kata dia.

Ketiga, kompleksitas operasional bank yang meningkat, terutama bagi bank besar dengan sistem lama (legacy system) dan jumlah pegawai besar seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mencapai lebih dari 120.000 karyawan.

Hery Gunardi, yang juga menjabar Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, menambahkan, industri perbankan juga menghadapi tekanan profitabilitas. Margin bunga menyempit, sementara biaya dana meningkat. Kondisi global—mulai dari konflik geopolitik hingga suku bunga tinggi—memperparah situasi dan membuat permintaan kredit melambat.

Fenomena menarik lainnya adalah meningkatnya undisbursed loan—kredit yang sudah disetujui tetapi tidak ditarik oleh nasabah. “Ini menunjukkan dunia usaha masih wait and see,” ujarnya.

AI: Peluang Sekaligus Ancaman

Transformasi paling radikal datang dari kecerdasan buatan. Hery mencontohkan bagaimana perusahaan teknologi di China memangkas jumlah call center hingga 75% berkat AI.

Di perbankan, AI memungkinkan layanan yang sangat personal—bahkan mengenali nasabah tanpa perlu verifikasi berlapis. Namun di saat yang sama, teknologi ini juga membuka risiko baru seperti penipuan berbasis deepfake.

“AI bisa meniru suara dan wajah. Ini jadi tantangan besar untuk keamanan perbankan, terutama dalam digital onboarding,” tegasnya.

Dalam konteks tersebug, Hery menekankan bahwa kunci utama bukan pada siapa yang paling besar atau paling pintar, melainkan siapa yang paling cepat beradaptasi. Dia menyinggung nasib perusahaan besar seperti Nokia dan Kodak yang gagal membaca perubahan teknologi. “Mereka tidak salah, tapi kalah karena tidak berubah,” ujarnya.

Pelajaran itu relevan bagi bank, terutama di tengah pergeseran menuju open banking dan embedded finance, di mana layanan keuangan semakin terintegrasi dengan ekosistem digital.

Leadership Jadi Penentu

Di tengah tekanan tersebut, Hery menilai kepemimpinan menjadi faktor krusial. Pemimpin bank tidak cukup hanya fokus pada target jangka pendek, tetapi juga harus mampu menyeimbangkan keberlanjutan jangka panjang.

Ia membagi kepemimpinan menjadi dua tipe: visioner seperti Elon Musk dan Jeff Bezos, serta transformasional seperti Soekarno dan Mahatma Gandhi.

Namun dalam praktiknya, industri perbankan membutuhkan kombinasi keduanya: visi yang jelas dan kemampuan eksekusi yang disiplin. “Leader itu bukan hanya bikin rencana, tapi memastikan eksekusinya berjalan dan dimonitor,” katanya.

Sebagai bank dengan basis mikro terbesar, Hery mengungkapkan, BRI kini menjalankan transformasi bertajuk “BRIVolution Reignite”. Fokusnya tidak hanya memperkuat bisnis inti UMKM, tetapi juga membangun sumber pertumbuhan baru di segmen konsumer.

Selain itu, BRI juga menekan biaya dana (cost of fund) melalui peningkatan dana murah. Hasilnya mulai terlihat, dengan cost of fund yang turun signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Transformasi juga menyentuh budaya kerja, pengembangan talenta, hingga digitalisasi layanan. Menurut Hery, perubahan ini harus dipimpin langsung oleh manajemen puncak agar efektif.

Hery juga menekankan, bank kini tidak lagi bisa beroperasi sebagai institusi keuangan tradisional. Mereka harus berevolusi menjadi platform teknologi keuangan yang adaptif, efisien, dan berorientasi pada pengalaman nasabah.

Dalam lanskap baru ini, ukuran bukan lagi jaminan dominasi. Justru kelincahan, inovasi, dan kualitas kepemimpinan menjadi faktor pembeda. “Yang akan bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling adaptif terhadap perubahan,” kata Hery.

Hal tersebut, lanjutnya, sekaligus menjadi peringatan bahwa di era AI dan disrupsi digital, masa depan perbankan tidak ditentukan oleh sejarah panjangnya, melainkan oleh keberanian untuk berubah. (**)

Sumber: Tim Komunikasi PERBANAS