Perbankan ASEAN Dukung Integrasi Ekonomi Kawasan

08 April 2026

Perbankan ASEAN berkomitmen mendukung berbagai inisiatif dan agenda integrasi kawasan, khususnya di bidang ekonomi dan sektor keuangan. Salah satu yang menjadi fokus perbankan ASEAN adalah terwujudnya digitalisasi di bidang ekonomi, serta meningkatkan investasi berbasis kawasan.

Hal tersebut menjadi fokus pembicaraan dalam pertemuan antara Sekfretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn dan Chairman ASEAN Bankers Association (ABA), Tan Teck Long, di Sekretariat ASEAN Jakarta pada 31 Maret 2026. Pertemuan itu menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara sektor perbankan dan organisasi regional ASEAN.

Selain ABA, pertemuan juga dihadiri sejumlah pengurus Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), di antaranya Sekjen Perbanas Anika Faisal, Ketua Bidang Hubungan Kelembagaan dan Komunikasi Perbanas Ahmad Solichin Lutfiyanto, Anggota Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Fransisca Nelwan Mok, serta Direktur Eksekutif Perbanas Eka Sri Dana Afriza.

Dalam pertemuan tersebut, berbagai isu strategis dibahas, khususnya terkait perkembangan ekonomi ASEAN dan peran sektor perbankan dalam mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Sekjen ASEAN menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi ABA yang selama ini secara konsisten mendukung berbagai inisiatif ASEAN, termasuk dalam mewujudkan ASEAN Community 2025. Visi komunitas ASEAN yang telah diadopsi sejak 2015 tersebut bertujuan menjadikan kawasan sebagai entitas yang terintegrasi dan inklusif di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Menurutnya, sektor perbankan memiliki peran krusial dalam memastikan bahwa integrasi ekonomi ASEAN tidak hanya bersifat formal, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas. Dukungan ABA dinilai telah membantu memperkuat stabilitas keuangan kawasan sekaligus mendorong inklusi keuangan di berbagai negara anggota.

Salah satu fokus utama dalam diskusi adalah pentingnya percepatan digitalisasi sektor keuangan di ASEAN. Sekjen ASEAN menekankan urgensi pengembangan kerangka kerja ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), yang ditargetkan rampung pada April 2026 dan akan ditandatangani oleh para pemimpin ASEAN pada November 2026.

DEFA diharapkan menjadi fondasi bagi integrasi ekonomi digital kawasan, termasuk dalam hal interoperabilitas sistem pembayaran, perlindungan data, serta penguatan ekosistem ekonomi digital.

Digitalisasi ini dinilai sebagai kunci untuk meningkatkan efisiensi sektor keuangan sekaligus memperluas akses layanan perbankan, terutama bagi masyarakat yang belum terlayani secara optimal. Dalam konteks ini, perbankan di ASEAN diharapkan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan teknologi, sekaligus menjaga stabilitas dan keamanan sistem keuangan.

Selain digitalisasi, isu keamanan keuangan juga menjadi perhatian utama. Sekjen Kao menegaskan pentingnya penguatan upaya anti-fraud dan anti-scam di seluruh kawasan. Ia mengingatkan bahwa tanpa sistem perlindungan yang kuat terhadap kejahatan keuangan, kepercayaan investor terhadap ASEAN dapat tergerus. Bahkan, ia menekankan bahwa ASEAN tidak boleh sampai dikenal sebagai kawasan yang menjadi “surga” bagi praktik penipuan.

Untuk itu, diperlukan kerja sama lintas negara yang lebih erat dalam hal pertukaran informasi, penguatan regulasi, serta peningkatan kapasitas lembaga keuangan dalam mendeteksi dan mencegah kejahatan finansial. Sektor perbankan, sebagai garda terdepan dalam sistem keuangan, memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga integritas dan kredibilitas kawasan.

Lebih lanjut, Sekjen ASEAN juga menyoroti pentingnya pemanfaatan secara optimal berbagai perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang telah dimiliki ASEAN dengan mitra global. Untuk itu, sektor perbankan diharapkan dapat berperan aktif dalam memfasilitasi pembiayaan perdagangan serta memberikan dukungan kepada pelaku usaha agar dapat memanfaatkan akses pasar yang lebih luas.

Di tengah tantangan global, termasuk ketidakpastian ekonomi dan krisis energi, kerja sama regional menjadi semakin penting. Dalam konteks ini, Sekretaris Jenderal ASEAN menekankan perlunya memperkuat kolaborasi di sektor energi, khususnya melalui kerangka ASEAN Petroleum Security Agreement yang telah ada sejak 2009. Kerja sama ini dinilai penting untuk memastikan ketahanan energi kawasan, yang pada gilirannya akan mendukung stabilitas ekonomi dan keberlanjutan pertumbuhan.

Menanggapi berbagai isu tersebut, Chairman ABA Tan Teck Long menegaskan komitmen sektor perbankan ASEAN untuk terus mendukung kolaborasi regional yang telah terjalin selama ini. Ia menyampaikan bahwa tren investasi global saat ini menunjukkan pergeseran dari pendekatan berbasis negara menuju pendekatan berbasis kawasan. Hal ini menjadikan ASEAN sebagai entitas yang semakin relevan dan strategis di mata investor global.

Menurutnya, sektor perbankan memiliki peran penting dalam memfasilitasi arus investasi tersebut, baik melalui penyediaan pembiayaan, pengembangan produk keuangan inovatif, maupun dukungan terhadap integrasi pasar keuangan.

“ABA, sebagai wadah kerja sama perbankan di kawasan, akan terus mendorong koordinasi dan kolaborasi antarbank untuk menghadapi berbagai tantangan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada,” ujarnya.

Peran Perbankan Indonesia

Kehadiran Perbanas dalam pertemuan ini juga mencerminkan peran aktif Indonesia dalam mendorong penguatan sektor perbankan ASEAN. Menurut Sekjen Perbanas Anika Faisal, sebagai salah satu ekonomi terbesar di kawasan, Indonesia diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam implementasi berbagai inisiatif regional, termasuk dalam bidang digitalisasi keuangan dan penguatan sistem keamanan finansial.

“Perbanas yang juga ada di dalam ABA, selama ini aktif memegang berbagai komite di ABA,” ujarnya.

Anika juga menekankan pentingnya mendorong digitalisasi sektor keuangan di kawasan, serta menjadikan ASEAN sebagai kawasan bebas kejahatan keuangan. “Kita sedang menyelesaikan soal digital payment, standardisasi penanganan scamming. Ke depan kita juga akan bicara soal sustainability dan AI (artificial intelligent),” ungkapnya.

Anika juga menegaskan, dalam konteks ABA, Perbanas tetap mengutamakan kepentingan ekonomi nasional, khususnya sektor perbankan. “Perbanas akan terus mengedepankan kepentingan ekonomi Indonesia, khususnya sektor perbankan nasional, dalam setiap kiprah dan kontribusinya di ABA. Dalam dinamika kerja sama regional, kami memastikan bahwa posisi dan daya saing perbankan Indonesia tetap menjadi prioritas utama, sejalan dengan upaya memperkuat integrasi ekonomi ASEAN,” tegasnya. (*)