UMKM Center by Perbanas Jalan Baru UMKM Naik Kelas

21 June 2026

PERBANAS, Jakarta -- Di tengah berbagai upaya pemerintah dan industri perbankan untuk memperbesar akses pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) justru menemukan fakta yang cukup mengejutkan. Persoalan utama UMKM Indonesia ternyata bukan semata-mata keterbatasan akses kredit, melainkan rendahnya kesiapan pelaku usaha untuk tumbuh dan naik kelas.

Temuan tersebut menjadi dasar bagi Perbanas meluncurkan UMKM Center Perbanas, sebuah platform kolaborasi yang dirancang untuk membantu UMKM memperkuat kapasitas usaha, memperluas akses pasar, meningkatkan literasi keuangan, mempercepat digitalisasi, hingga menjadi lebih layak memperoleh pembiayaan dari perbankan.

Peluncuran UMKM Center dilakukan bertepatan dengan Rapat Umum Anggota (RUA) Perbanas Tahun 2026 yang digelar di Jakarta. Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi menegaskan bahwa penguatan sektor UMKM merupakan salah satu agenda strategis industri perbankan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

“Perbankan tidak hanya bicara soal pembiayaan. Akses kredit memang penting, tetapi belum tentu menjamin keberhasilan usaha. Yang lebih penting adalah bagaimana meningkatkan kapasitas, akses ke pasar, daya saing, pendampingan, edukasi, dan keberlanjutan usaha UMKM,” ujar Hery.

Menurut dia, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional serta menyerap sebagian besar tenaga kerja. Namun, hasil kajian Perbanas menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit UMKM dalam beberapa tahun terakhir justru melambat, bahkan sempat mengalami kontraksi meskipun kredit perbankan secara umum masih tumbuh positif.

“Temuan kami menunjukkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan terletak pada pasokan kredit dari perbankan. Sebaliknya, mayoritas pelaku UMKM belum mengajukan kredit karena merasa belum membutuhkan pembiayaan dan masih mengandalkan modal sendiri,” kata Hery.

Fakta tersebut tercermin dari tingginya tingkat persetujuan kredit bagi UMKM yang mengajukan pembiayaan. Artinya, masalah utama bukan terletak pada sulitnya memperoleh kredit, melainkan rendahnya tingkat bankability dan kesiapan UMKM untuk berkembang.

Karena itu, Perbanas menilai pendekatan pengembangan UMKM tidak lagi cukup hanya berfokus pada penyaluran kredit. Dibutuhkan strategi yang lebih menyeluruh agar pelaku usaha mampu meningkatkan skala bisnisnya secara berkelanjutan. (*)

Mayoritas UMKM Masih Mengandalkan Modal Sendiri

Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani menjelaskan, hasil kajian awal Perbanas menemukan bahwa sekitar 88% pelaku UMKM masih mengandalkan dana pribadi sebagai sumber pembiayaan usaha.

“Ini menunjukkan mayoritas pelaku usaha masih merasa nyaman menggunakan modal sendiri. Padahal ketika ingin berkembang dan melakukan ekspansi, mereka pasti membutuhkan pembiayaan yang lebih besar,” ujarnya.

Kajian Perbanas juga menunjukkan bahwa tingkat kenaikan kelas atau upgrading UMKM masih sangat rendah. Setiap tahun kredit UMKM terus bertambah, tetapi jumlah pelaku usaha yang berhasil naik kelas tidak mengalami peningkatan yang signifikan.

Menurut Aviliani, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketergantungan apabila pengembangan UMKM hanya dilakukan melalui pendekatan sisi penawaran (supply side) berupa tambahan pembiayaan. Karena itu, perhatian perlu diarahkan pada penciptaan permintaan (demand side) yang mampu mendorong UMKM tumbuh secara organik.

“Kalau UMKM tidak naik kelas, mereka tidak mungkin terus menerus meminjam. Justru yang kita dorong adalah bagaimana mereka berkembang, melakukan ekspansi, dan pada akhirnya membutuhkan pembiayaan yang lebih besar secara alami,” katanya.

Tantangan

Kajian Perbanas juga mengungkap berbagai persoalan struktural yang masih dihadapi pelaku UMKM. Sekitar 95% tenaga kerja UMKM berasal dari anggota keluarga sendiri. Banyak pekerja yang tidak memperoleh sistem penggajian formal dan hanya menerima pembagian keuntungan apabila usaha memperoleh laba.

Selain itu, sebagian besar UMKM masih berbentuk usaha perorangan. Sekitar 75% pelaku usaha belum melibatkan pihak lain sebagai mitra maupun pemegang saham.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa profesionalisme dalam pengelolaan usaha masih menjadi tantangan besar. Banyak UMKM yang masih ingin mengelola semuanya sendiri bersama keluarga sehingga pertumbuhannya terbatas,” ujar Aviliani.

Persoalan lainnya adalah lemahnya pencatatan keuangan. Tidak sedikit pelaku usaha yang belum memiliki laporan keuangan yang memadai sehingga menyulitkan proses analisis kredit oleh perbankan.

Padahal, berdasarkan kajian Perbanas, tingkat penolakan kredit UMKM sebenarnya sangat rendah. Hanya sekitar 4% pengajuan kredit yang ditolak bank, sementara sisanya memperoleh persetujuan karena memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

“Artinya, jika UMKM mampu memenuhi standar administrasi dan pencatatan usaha yang baik, peluang memperoleh kredit sebenarnya sangat besar,” katanya.

Kunci Naik Kelas

Perbanas menilai salah satu cara paling efektif untuk mempercepat kenaikan kelas UMKM adalah melalui integrasi ke dalam rantai pasok atau supply chain.

Menurut Aviliani, banyak negara berhasil mengembangkan UMKM karena pelaku usaha kecil menjadi bagian dari rantai pasok industri yang lebih besar.

“Kami ingin UMKM menjadi bagian dari supply chain yang jelas, baik melalui offtaker maupun sesama pelaku usaha. Ketika mereka memiliki kepastian pasar dan permintaan, mereka akan terdorong melakukan ekspansi dan memanfaatkan pembiayaan,” ujarnya.

Untuk mendukung pendekatan tersebut, Perbanas menghadirkan pelaku industri yang telah sukses membangun model pembinaan UMKM, termasuk Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang selama ini membina sekitar 2.000 UMKM setiap tahun hingga berhasil naik kelas.

Selain sektor manufaktur, Perbanas juga memberikan perhatian besar kepada sektor agribisnis yang dinilai memiliki potensi tinggi dalam menciptakan nilai tambah dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Melalui UMKM Center, Perbanas tidak ingin sekadar membangun pusat kegiatan baru. Organisasi ini ingin menjadi penghubung antara pelaku UMKM dengan berbagai ekosistem pendukung yang diperlukan untuk berkembang.

Program yang akan dijalankan mencakup pendampingan pencatatan keuangan, edukasi bisnis, digitalisasi usaha, peningkatan akses pasar, hingga penghubungan dengan jaringan perbankan.

Perbanas juga akan berkolaborasi dengan berbagai pihak yang telah memiliki program pembinaan UMKM, termasuk bank-bank anggota, kementerian dan lembaga, asosiasi, maupun pelaku usaha besar.

“UMKM Center tidak akan berjalan sendiri. Kami akan bekerja sama dengan berbagai pihak yang selama ini sudah membina UMKM. Peran kami adalah memperkuat kolaborasi agar UMKM bisa lebih cepat naik kelas dan menjadi bankable,” kata Aviliani.

Dalam jangka panjang, Perbanas berharap UMKM Center mampu menciptakan ekosistem yang membuat pelaku usaha lebih produktif, lebih formal, dan lebih siap mengakses pembiayaan.

Bagi industri perbankan, keberhasilan UMKM naik kelas akan menciptakan permintaan kredit yang sehat dan berkelanjutan. Sementara bagi perekonomian nasional, lahirnya semakin banyak UMKM yang kompetitif akan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. (*)

“UMKM yang produktif, formal, dan bankable akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Itulah tujuan utama dari UMKM Center Perbanas,” ujar Hery Gunardi.

Sumber: Tim Komunikasi PERBANAS