Update Inflasi Juni 2026

calendar16 July 2026
Update Inflasi Juni 2026

Pada Juni 2026, inflasi tercatat sebesar 3,34% (yoy). Inflasi Juni 2026 lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang tumbuh 3,08% (yoy).

Secara rinci, tingkat inflasi tahunan (yoy) pada Juni 2026 tercatat sebagai berikut: inflasi inti 2,76% (kontribusi 35,02%), inflasi bergejolak 5,58% (kontribusi 27,25%), dan inflasi harga diatur pemerintah 3,42% (kontribusi 19,76%).

Inflasi Juni 2026 yang relatif tinggi terutama dipengaruhi oleh kenaikan komponen harga bergejolak yang mencapai 5,58% (yoy), mencerminkan meningkatnya tekanan pada kelompok pangan. Di sisi lain, inflasi komponen harga yang diatur pemerintah meningkat menjadi 3,42% (yoy), melanjutkan tren kenaikan sejak April 2026 akibat penyesuaian tarif pada sektor energi dan transportasi di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Inflasi tertinggi pada Juni 2026 terjadi di Provinsi Papua Barat sebesar 6,99% (yoy), mencerminkan tantangan distribusi logistik di Kawasan Timur Indonesia. Sementara itu, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih mencatatkan inflasi tinggi pascabencana alam, sedangkan inflasi terendah terjadi di Sulawesi Barat sebesar 2,29% (yoy).

Tingginya harga energi global berpotensi meningkatkan tekanan inflasi impor melalui kenaikan biaya transportasi, logistik, dan harga barang konsumsi. Meski APBN masih berperan menjaga stabilitas harga BBM subsidi, ruang fiskal semakin terbatas di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya harga energi global.

Bauran kebijakan fiskal dan moneter tetap diarahkan secara akomodatif dan terukur. Kenaikan suku bunga acuan BI menjadi 5,75% merupakan langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi, sementara penguatan koordinasi pemerintah dan otoritas moneter menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi.