Update Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025
Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara agregat pada tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11% (Yoy). Pertumbuhan tersebut di bawah target pemerintah dalam APBN 2025 sebesar 5,2% (Yoy).
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan porsi sebesar 51,27% terhadap PDB. Pada tahun 2025, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98% (Yoy), relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh 4,94%. Kondisi ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada permintaan domestik, khususnya konsumsi masyarakat.

Meskipun pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,11% (Yoy), namun capaian ini masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada 2022 dan belum mencerminkan pemulihan yang kuat secara fundamental. Konsumsi rumah tangga yang tumbuh di bawah 5% pasca pandemi Covid-19, menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih tertahan dan belum sepenuhnya menjadi motor utama akselerasi pertumbuhan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 terutama didukung oleh sektor industri pengolahan (manufaktur) yang tumbuh 5,30% (Yoy) dengan porsi terbesar terhadap PDB sebesar 19,9%, sehingga menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatatkan pertumbuhan 5,33% (Yoy) dengan porsi 14,9%, menunjukkan perbaikan kinerja sektor primer yang berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi nasional masih ditopang kinerja positif wilayah utama seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi, serta Bali dan Nusa Tenggara yang berkontribusi sekitar 75% terhadap ekonomi Indonesia. Namun, penguatan tersebut belum mampu mendorong akselerasi nasional karena perlambatan di wilayah lain. Pada 2025, Sumatera serta Maluku & Papua (25% porsi ekonomi) justru mengalami tren perlambatan bahkan penurunan.
Sumatera mencatat perlambatan yang dipengaruhi oleh bencana alam yang menekan sektor pertanian, logistik, dan aktivitas perdagangan. Sementara itu, Maluku & Papua menunjukkan tren penurunan, terutama akibat melemahnya sektor pertambangan dan tingginya ketergantungan pada sektor ekstraktif, sehingga kinerja ekonomi wilayah ini cenderung memburuk dan memberi tekanan pada pertumbuhan nasional sepanjang 2025.
