Update Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan-I 2026
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan 1-2026 meningkat menjadi 5,61% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Triwulan I-2025 yang sebesar 4,87% (yoy).
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I-2026 terutama ditopang oleh lonjakan pengeluaran pemerintah yang tumbuh 21,81% (yoy). Konsumsi rumah tangga juga menguat menjadi 5,52% (yoy) didorong oleh momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Investasi turut mencatat peningkatan 5,96% (yoy).

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 ditopang sektor-sektor utama seperti manufaktur, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan transportasi.

Pada Q1 2026, kontribusi konsumsi rumah tangga meningkat menjadi 2,94%, lebih tinggi dibandingkan Q4 2025 sebesar 2,68%. Kenaikan ini terutama didorong oleh momentum Ramadan dan Idulfitri 1447 H, yang meningkatkan mobilitas dan konsumsi masyarakat. Kontribusi transportasi dan komunikasi naik menjadi 0,93%, sejalan dengan aktivitas mudik dan perjalanan. Kontribusi restoran dan hotel meningkat menjadi 0,37%. Makanan dan minuman naik menjadi 0,88%, serta perumahan dan perlengkapan rumah tangga meningkat menjadi 0,34%.

Sektor Porsi Besar
Industri pengolahan (manufaktur) tumbuh sebesar 5,04% (yoy) pada Triwulan I-2026, meningkat dibandingkan 4,55% (yoy) pada Triwulan I-2025. Dengan porsi 19,07% terhadap total perekonomian nasional, aktivitas industri manufaktur mash menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sementara itu, sektor perdagangan besar juga mencatatkan kenaikan, dari 5,03% (yoy) pada Triwulan I-2025 menjadi 6,26% (yoy) pada Triwulan I-2026, mencerminkan kuatnya aktivitas konsumsi dan distribusi domestik saat Bulan Ramadan dan Idulfitri 1447H.
Sektor konstruksi mengalami akselerasi dari 2,18% (yoy) pada Triwulan I-2025 menjadi 5,49% (yoy) pada Triwulan I-2026. Hal ini mengindikasikan adanya penguatan aktivitas pembangunan dan investasi fisik khususnya percepatan infrastruktur jalan menjelang Mudik Lebaran serta pembangunan masif berbagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Sektor Porsi Kecil
Pada Q1 2026, terdapat sektor-sektor lain dengan porsi kecil, namun dapat menjadi potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sektor penyedia akomodasi makanan dan minuman, meskipun dengan porsi sebesar 2,91%, tetapi dapat tumbuh 13,14% (yoy) pada kuartal pertama 2026-tertinggi kali ini. Sektor informasi dan komunikasi tumbuh 7,14% (yoy) pada Triwulan-llI 2025. Sektor tersebut berkontribusi 4,61% terhadap total PDB Indonesia. Hal ini menunjukkan potensi yang baik dari sektor pariwisata, perhotelan, dan restoran. Selain itu, sektor jasa perusahaan tumbuh di level 4,91% (yoy) pada Triwulan I-2026 dengan porsi 2% terhadap total PDB Indonesia.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 lebih banyak didorong oleh faktor musiman pada awal tahun. Kinerja ekonomi pada periode tersebut ditopang oleh efek basis rendah, peningkatan permintaan selama Ramadan dan Idulfitri, serta percepatan belanja pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, menyebutkan strategi pertumbuhan yang bertumpu pada belanja pemerintah memiliki keterbatasan anggaran, terutama di tengah ketidakpastian global. Pasalnya, belanja pemerintah menjadi salah satu pendorong dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi kuartal l-2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan (yoy). Ke depan pemerintah perlu memperkuat sumber pertumbuhan lain, khususnya dari investasi, termasuk penanaman modal asing langsung atau foreign direct investment (FDI).