Digitalisasi Berkembang Pesat, Perbankan Dihadapkan pada Risiko Siber
PERBANAS, Jakarta – Transformasi digital yang semakin agresif di industri perbankan menghadirkan dua sisi mata uang: peningkatan efisiensi layanan dan melonjaknya ancaman kejahatan siber. Pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), machine learning, hingga Large Language Model (LLM) mulai memperkuat kualitas layanan, tetapi pada saat yang sama memperbesar eksposur risiko keamanan digital.
Dalam CXO Forum Banking Update di Jakarta, Rabu (13/5/2026), Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (PERBANAS) sekaligus Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Hendra Lembong menegaskan, inovasi digital yang berkembang cepat harus dibarengi penguatan tata kelola risiko siber.
“Kalau di kita sudah memakai teknologi Large Language Model yang kita kembangkan sendiri. Dampaknya luar biasa. Dalam dua bulan, volume pesan masuk ke call center dan WhatsApp langsung turun 60% karena bisa di-handle oleh LLM,” ujar Hendra.
Namun, ia mengingatkan implementasi AI harus dilakukan secara bijaksana agar tidak menekan kebutuhan lapangan kerja di Indonesia. “Ini yang terus kita ingatkan ke tim proyek. Jangan ketagihan semuanya mau di-AI-kan. Indonesia masih butuh lapangan kerja yang cukup banyak,” tegasnya.
Hendra juga menyoroti risiko hallucination dari AI generatif sehingga setiap proyek digital harus disertai penguatan keamanan, tata kelola data, dan mitigasi risiko operasional. Lantaran, ancaman siber kini bukan lagi isu teknis semata, tetapi telah berkembang menjadi risiko bisnis dan reputasi sejalan dengan tingginya laporan kerugian masyarakat akibat penipuan digital yang masuk ke pusat anti-scam nasional.
“Data yang masuk ke anti-scam center itu triliunan rupiah. Dan kebanyakan tidak bisa direcover,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kasus social engineering masih kerap menjebak bahkan pegawai bank yang sudah terlatih.
Tidak hanya perbankan, Hendra juga menyoroti peran penting sektor telekomunikasi. Infrastruktur SMS, menurutnya, masih rentan disusupi pesan palsu karena belum dilengkapi enkripsi seperti aplikasi pesan instan. “Operator telekomunikasi harus mempercepat migrasi teknologi agar keamanan digital nasional jauh lebih kuat,” katanya.
Hendra menyebut investasi keamanan siber kini menjadi kebutuhan strategis meskipun memerlukan anggaran besar. “Cost-nya luar biasa mahal. Tapi belum ada hitungannya. Tidak ada pilihan, semua harus upgrade untuk melindungi bank dan masyarakat kita,” ujarnya.
Ia berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat terus memperketat standar keamanan digital agar kerugian masyarakat akibat penipuan digital dapat ditekan.

Kolaborasi Pelaku Industri
Dalam kesempatan yang sama, President & CEO Lintasarta, Armand Hermawan, menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pelaku industri untuk memperkuat ekosistem keamanan digital nasional.
“Terima kasih atas kepercayaan kepada Lintasarta untuk kembali menjadi mitra penyelenggara CXO Forum, melanjutkan kegiatan dua tahun lalu. Topik utama tahun ini, khususnya tentang keamanan siber, menjadi sangat krusial bagi perbankan Indonesia,” ujar Armand.
Ia menegaskan bahwa ketahanan siber tidak dapat dibangun secara individual oleh masing-masing bank, melainkan harus melalui kolaborasi ekosistem digital yang kuat.
“Ancaman siber hari ini semakin beragam. Ketahanan cyber tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kita membutuhkan ekosistem digital yang kuat untuk menghadapi serangan yang semakin kompleks,” kata Armand.
Menurutnya, kerja sama antara bank, penyedia teknologi, dan pemerintah daerah sangat dibutuhkan, terutama untuk kelompok bank pembangunan daerah (BPD) yang menghadapi tantangan investasi teknologi yang besar.
“Kami berdiskusi dengan BPD untuk mencari model investasi bersama dan sharing infrastruktur. Dengan begitu, BPD bisa masuk ke ekosistem digital nasional tanpa tertinggal,” jelasnya.
Armand juga menyoroti peran AI dalam memperkuat ketahanan siber, namun tetap menekankan bahwa keamanan digital membutuhkan infrastruktur dasar yang kuat mulai dari konektivitas, cloud, pusat data, hingga sistem security defense yang terintegrasi. (*)
Sumber: Tim Komunikasi PERBANAS