Update BI Rate Juli 2026
Suku Bunga Acuan Juli 2026 Tetap 5,75%
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21–22 Juli 2026 memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75%, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Keputusan ini merupakan kali pertama BI mempertahankan BI Rate setelah menaikkannya tiga kali sepanjang 2026 dengan total 100 basis poin, dari 4,75% (bertahan sejak September 2025) menjadi 5,75% pada Juni 2026, termasuk satu kali kenaikan di luar jadwal RDG pada 9 Juni 2026.
Inflasi yang meningkat menjadi 3,34% (yoy) pada Juni 2026 mendorong BI mempertahankan BI Rate untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan ekspektasi inflasi. Kebijakan ini direspons pasar melalui kenaikan yield SRBI tenor 12 bulan dari 4,96% pada akhir Januari 2026 menjadi 7,70% pada akhir Juni 2026, serta yield SBN tenor 1 tahun menjadi 7,17%. Spread yield yang semakin lebar mencerminkan meningkatnya premi risiko akibat tekanan inflasi, kebutuhan likuiditas, dan ketidakpastian pasar keuangan.

Derasnya arus masuk modal asing ke instrumen rupiah pasca kenaikan BI Rate tercermin dari meningkatnya kepemilikan investor asing pada SRBI, seiring penyesuaian kenaikan imbal hasil (yield) sejak April 2026. Kepemilikan asing di SRBI naik signifikan dari Rp114,05 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp293,16 triliun pada Juni 2026, dengan porsinya meningkat dari 16,15% menjadi 27,33% dari total outstanding Rp1.072,62 triliun.
Sementara itu, aliran dana asing ke pasar saham masih terbatas, mencerminkan preferensi investor terhadap instrumen moneter jangka pendek yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan risiko relatif lebih rendah.

Sejak awal 2026, cadangan devisa terus menurun akibat upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah penguatan dolar AS. Namun, dalam satu bulan terakhir cadangan devisa kembali meningkat, didukung oleh masuknya aliran modal asing ke SRBI dan SBN. Meski demikian, peningkatan cadangan devisa tersebut belum mampu mendorong penguatan nilai tukar Rupiah.

Hingga 27 Juli 2026, nilai tukar Rupiah masih melemah ke level Rp17.968/USD. Dari sisi global, Federal Reserve mempertahankan suku bunga di level 3,63%, sementara inflasi AS pada Juni 2026 tercatat 3,5% dan ekspektasi inflasi jangka menengah masih berada di atas target 2%. Kondisi ini turut menopang penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada Rupiah.
Ketidakpastian global akibat memanasnya kembali konflik di Timur Tengah dan meningkatnya ekspektasi inflasi AS memperkuat peluang The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Sementara itu, pelemahan Rupiah juga dipengaruhi tingginya kebutuhan valas, pembayaran dividen dan utang luar negeri, serta sentimen negatif di pasar keuangan, sehingga intervensi moneter belum mampu mendorong penguatan Rupiah secara signifikan.
