Update Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan-II 2026

calendar19 August 2026
Update Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan-II 2026

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29% (yoy), meningkat dari 5,12% (yoy) pada triwulan II 2025, tetapi melambat dibandingkan 5,61% (yoy) pada triwulan I 2026.

Perlambatan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi mulai kembali ke tren normal setelah akselerasi pada awal tahun yang didorong momentum Ramadan dan Lebaran. Meski demikian, secara kuartalan ekonomi tumbuh 3,73%, berbalik dari kontraksi 0,77% pada triwulan I 2026, yang menunjukkan pemulihan aktivitas ekonomi domestik.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 ditopang oleh belanja pemerintah yang tumbuh 15,97% (yoy), sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% (yoy). Namun, pertumbuhan konsumsi yang masih moderat menunjukkan bahwa pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat.

Dari sisi eksternal, ekspor barang dan jasa tumbuh 4,13% (yoy), sedangkan impor tumbuh lebih tinggi sebesar 8,82% (yoy). Kondisi ini menunjukkan melemahnya kontribusi sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi, di tengah meningkatnya kebutuhan impor dan ketidakpastian global pascakonflik di Timur Tengah.

Realisasi belanja negara terbagi menjadi tiga kelompok: belanja K/L, non-K/L, dan Transfer ke Daerah (TKD). Berikut rincian realisasi belanja negara pada Semester I 2026 dibandingkan dengan Semester I 2025: Belanja K/L meningkat dari Rp470,5 triliun menjadi Rp658,9 triliun, sementara belanja non-K/L naik dari Rp533 triliun menjadi Rp639,7 triliun. Sebaliknya, TKD turun dari Rp402,5 triliun menjadi Rp357,4 triliun. Hal ini menunjukkan ekspansi belanja negara lebih terkonsentrasi pada pemerintah pusat, sementara transfer ke daerah menurun.

Secara rinci, realisasi belanja K/L meliputi:

•⁠  ⁠Belanja Barang: Rp267,4 triliun (+100,7% yoy), terutama untuk program MBG dan insentif biodiesel.
•⁠  ⁠Belanja Pegawai: Rp203,8 triliun (+24,8% yoy), didorong pengangkatan ASN baru, tunjangan, THR, dan gaji ke-13.
•⁠  ⁠Belanja Modal: Rp109,4 triliun (+14,0% yoy), terutama untuk peralatan, infrastruktur, serta gedung dan bangunan.
•⁠  ⁠Belanja Bansos: Rp78,3 triliun (+0,4% yoy), terutama untuk PBI JKN, Kartu Sembako, PKH, PIP, dan KIP Kuliah.

Belanja untuk barang dan jasa, infrastruktur, serta aktivitas produktif memiliki keterkaitan lebih erat dengan pembentukan output dalam PDB.

Belanja non-K/L mencakup subsidi dan kompensasi untuk menjaga harga energi dan daya beli masyarakat. Pada Semester I 2026, realisasinya naik 44,4% (yoy) menjadi Rp233,0 triliun, terdiri atas subsidi Rp116,0 triliun dan kompensasi Rp116,9 triliun.

Peningkatan ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia, pelemahan rupiah, serta kenaikan konsumsi BBM, LPG, dan listrik bersubsidi, sekaligus membantu menjaga inflasi dan daya beli masyarakat.

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor utama, tetapi pertumbuhannya pada triwulan II 2026 menurun, menunjukkan melemahnya peran konsumsi sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi.

Sepanjang Semester I 2026, sebanyak 32.389 pekerja mengalami PHK berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan. Meski menurun dari 2025, angka ini masih relatif tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut, ditambah ketidakpastian ekonomi global serta kenaikan harga kebutuhan pokok dan energi, mendorong masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja dan membatasi daya beli.

Berdasarkan struktur lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi pada TW II 2026 ditopang oleh industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, dan pertanian. Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar PDB dengan share 18,50%, tetapi pertumbuhannya melambat menjadi 4,52%. Perlambatan ini dipengaruhi kenaikan biaya bahan baku, energi, dan logistik serta melemahnya daya beli masyarakat. Sementara itu, sektor pertambangan mengalami kontraksi 1,64%, turut dipengaruhi kontraksi subsektor pengilangan dan batu bara.