Neraca Perdagangan Indonesia November 2025
Neraca Perdagangan Indonesia November 2025
Surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar USD 2,7 miliar pada November 2025, nilai ini lebih tinggi dibanding surplus bulan sebelumnya (mtm) yang sebesar USD 2,4 miliar, namun lebih rendah dibanding dengan surplus November 2024 (yoy) yang sebesar USD 4,3 miliar. Dengan capaian ini, Indonesia telah mencatatkan surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut.
Dari sisi nilai ekspor Indonesia pada November 2025 sebesar USD 22,5 miliar. Secara tahununan, nilai ekspor turun -6,6% (yoy) dibandingkan bulan yang sama di tahun sebelumnya senilai USD 24,1 miliar, dan secara bulanan nilai ekspor mengalami penurunan sebesar -7,1% (mtm) dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar USD 24,2 miliar. Pelemahan ekspor disebabkan oleh ekspor nonmigas yang mencatatkan penurunan sebesar -5,1% (yoy) dengan nilai USD 21,64 miliar. Komoditas utama ekspor nonmigas mencakup lemak dan minyak hewani/nabati yang turun -18,8% (yoy) dengan kontribusi dominan sebesar 12,5% terhadap total ekspor nonmigas, Bahan Bakar Mineral turun -18,9% (yoy) kontribusi 11,8%, dan Besi dan Baja turun 17,1% dengan kontribusi 10,4%. Komoditas yang tumbuh pada November 2025 adalah Mesin dan Perlengkapan Elektrik yang tumbuh 24,8% (yoy) dengan kontribusi 7,2%, Kendaraan dan bagiannya tumbuh 11,9% (yoy) dengan kontribusi 4,6%, dan Logam Mulia dan Perhiasan/Permata yang tumbuh sebesar 36,8% (yoy) dengan kontribusi 4,4% terhadap total ekspor nonmigas.
Grafik 2. Perkembangan Ekspor: Nilai (Miliar Rp), dan Porsinya (%)
Sumber: BPS (2025), diolah oleh OCE PERBANAS
Negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada November 2025 adalah Tiongkok (USD 5,78 miliar), Amerika Serikat (USD 2,57 miliar), dan India (USD 1,11 miliar). Nilai ekspor Indonesia pada November 2025 mengalami penurunan dibandingkan November 2024 yang dipengaruhi oleh penurunan ekspor nonmigas ke beberapa negara mitra utama juga seperti Tiongkok turun -7,35% (yoy), India turun -30,36% (yoy), dan Jepang turun -12,34% (yoy). Penurunan ini menunjukkan adanya penurunan permintaan dari negara tersebut yang dapat disebabkan oleh kondisi ekonomi global yang melemah atau faktor musiman.
Tabel 1. Negara Mitra Utama Perdagangan Indonesia November 2025: Nilai (Miliar USD) dan Porsinya (%)
Sumber: BPS (2025), diolah oleh OCE PERBANAS
|
Ekspor |
Impor |
||
|
Negara |
Nilai FOB (Miliar USD) |
Negara |
Nilai FOB (Miliar USD) |
|
Tiongkok |
5,78 (23,8%) |
Tiongkok |
7,32 (41,1%) |
|
Amerika Serikat |
2,57 (11,5%) |
Jepang |
1,11 (7,0%) |
|
India |
1,11 (6,7%) |
Amerika Serikat |
0,76 (4,7%) |
|
Jepang |
1,30 (5,7%) |
Singapura |
0,75 (4,4%) |
|
Singapura |
0,74 (3,6%) |
Thailand |
0,58 (4,3%) |
Nilai impor Indonesia pada November 2025 mencapai USD 19,86 miliar, naik tipis 0,5% dibanding dengan bulan yang sama di tahun 2024 senilai USD 19,77 miliar. Secara mtm, total impor juga turun -9,1% dibandingkan Bulan Oktober 2025 sebesar USD 21,84 miliar. Penurunan impor ini utamanya disebabkan oleh turunnya impor non-migas -1,15% (yoy) dengan kontribusi 86,51% terhadap total kumulatif impor. Sedangkan, impor migas mengalami kenaikan 11,19% (yoy) dengan kontribusi 13,49% terhadap total kumulatif impor.
Grafik 5. Perkembangan Impor: Nilai (Miliar Rp), dan Porsinya (%)
Sumber: BPS (2026), diolah oleh OCE PERBANAS
Berdasarkan golongan penggunaan barang, kinerja impor pada November 2025 menunjukkan peningkatan 17,35% (yoy) pada impor barang modal yang naik dari USD 3,63 miliar pada November 2024 menjadi USD 4,26 miliar, mengindikasikan berlanjutnya aktivitas investasi dan kapasitas produksi. Sementara itu, impor bahan baku/penolong menurun -3,55% (yoy) dari USD 14,10 miliar menjadi USD 13,60 miliar, dan impor barang konsumsi turun tipis -1,98% (yoy), dari USD 2,03 miliar menjadi USD 1,99 miliar.
Komoditas impor utama yang menurun adalah impor Mesin/Perlengkapan Mekanis -5,49% (yoy) dengan kontribusi 17,41%, Kendaraan dan Bagiannya -8,18 dengan kontribusi 5,28%, dan Bahan Kimia Organik -25,34% (yoy) dengan kontribusi 3,05% dari total kumulatif impor nonmigas. Sementara itu, komoditas impor utama yang mengalami kenaikan yaitu Mesin/Perlengkapan Elektrik tumbuh 29,6% (yoy) dengan kontribusi sebesar 15,17% dari total kumulatif impor nonmigas.
Neraca perdagangan Indonesia tetap mencatatkan surplus secara konsisten sepanjang hingga November 2025, namun, pergerakan nilai tukar Rupiah tidak sejalan dengan kinerja perdagangan barang tersebut. Sepanjang 2025, Rupiah bertahan pada level yang relatif terdepresiasi di kisaran Rp16.000 per USD, bahkan ketika surplus perdagangan masih terjaga, termasuk pada November 2025 yang mencatatkan surplus sekitar USD 2,66 miliar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa dinamika nilai tukar Rupiah lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dan pasar keuangan global, seperti ketidakpastian global, ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, serta arus modal internasional.